Archive for February, 2011


Sumber : http://www.jpnn.com 

FEATURES

Rabu, 21 Juli 2010 , 11:12:00

Andrian Benny Hidayat dan Ifa H Misbach tengah menunjukkan hasil analisa sidik jari FOTO: SOFYAN HENDRA/JAWA POS

Analisis sidik jari kini tak hanya digunakan untuk kepentingan presensi, penanda identitas, atau identifikasi pelaku kriminal. Gambar sidik jari ternyata juga bisa digunakan untuk mengetahui minat, bakat, kecerdasan, bahkan gaya belajar dan bekerja seseorang.

———————————————
SOFYAN HENDRA, Bandung
———————————————



“Anda lebih cepat paham jika belajar dengan teks dan gambar daripada sarana visual dan musik,” kata Ifa H. Misbach saat menerangkan hasil analisis di layar monitor. “Anda juga agak introvert (tertutup, Red),” tambahnya.

Ifa tidak meramal. Dosen psikologi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Bandung, itu mendemonstrasikan analisis sidik jari (fingerprint analysis) kepada Jawa Pos. Sebelumnya, sepuluh sidik jari klien diambil dengan sebuah alat khusus. Alat tersebut disambungkan ke komputer yang telah ditanami peranti lunak karya tim Psikobiometric Research Bandung, lembaga tempat Ifa bernaung.

Hanya dibutuhkan beberapa menit untuk mengetahui data singkat tentang gaya belajar, multiple intelligence, hingga profil kepribadian. Dalam analisis normal, setidaknya ada 35 jenis informasi yang bisa didapat dari analisis sidik jari.

Ifa menjelaskan, analisis sidik jari memang cocok untuk anak-anak yang belum begitu terpengaruh oleh lingkungan. Dengan mengetahui potensi kecerdasan dan bakat itu, orang tua atau guru secara mudah mengarahkan anak dalam proses belajar.

Ifa mencontohkan, tak semua anak bisa menangkap pelajaran dengan mendengarkan penjelasan guru. Ada anak yang hanya bisa menangkap materi lewat penjelasan dengan tulisan. Ada pula anak yang harus mendapatkan contoh praktik dulu, kemudian baru bisa memahami pelajaran. “Nah, itu semua bisa terlihat dari analisis sidik jari tersebut,” kata kepala Biro Psikologi Melinda Hospital, Bandung, tersebut.

Meski demikian, analisis sidik jari juga bisa dipraktikkan untuk orang dewasa. Sebab, papar Ifa, walaupun ada pengaruh lingkungan, faktor genetis tetap berpengaruh dalam analisis tersebut. “Analisis itu juga bisa digunakan untuk mengetahui gaya bekerja seseorang. Dengan begitu, perusahaan dapat memanfaatkannya untuk mengetahui gaya bekerja karyawan,” ujar ibu satu anak tersebut.

Menurut Ifa, analisis sidik jari berbeda dengan tes kecerdasan. Sebab, metode itu tidak bertujuan menilai kepintaran seseorang, melainkan mengetahui minat, bakat, dan pola kecerdasan.

Lantas, bagaimana sidik jari bisa digunakan untuk mengetahui itu semua” Pendiri Psikobiometric Research Andrian Benny Hidayat menjelaskan, perbedaan area struktur otak mengakibatkan ketidaksamaan dominasi fungsi atau cara kerja organ paling penting tersebut. Itulah yang membuat setiap orang memiliki perbedaan inteligensi. Nah, cara kerja otak tersebut tecermin dalam sidik jari setiap orang.

Benny menjelaskan, pola garis sidik jari dibentuk sejak janin berusia 13?19 minggu dalam kandungan. Setelah bayi lahir, pola sidik jari tidak akan berubah. “Kalaupun luka, sidik jari kembali seperti semula. Sidik jari hanya bisa hilang jika dibakar,” papar Benny.

Berdasar pola sidik jari itu, dia berusaha mengembangkan riset yang dikaitkan dengan minat dan pola kecerdasan di Indonesia. Dalam khazanah psikologi, analisis sidik jari digolongkan sebagai metode biometri “lawan metode psikometri. Psikometri mendasarkan analisis pada aspek psikologis yang lazim dijumpai dalam tes untuk masuk kerja. Sedangkan biometri menggunakan analisis biologis.

Benny mengatakan, analisis sidik jari berbeda dengan ramalan. Analisis itu menggunakan dermatoglyphics atau ilmu yang mempelajari anatomi genetika pada pola sidik jari. Penelitian tersebut sudah ada lebih dari 200 tahun lalu dan dikembangkan di Tiongkok. Dermatoglyphics merupakan cabang dari biologi yang mencakup genetika atau anatomi. “Itu berbeda dengan palmistry atau ramalan,” ucap Benny.

Mulanya, Benny dan timnya kesulitan untuk menjelaskan perbedaan analisis sidik jari dengan ramalan kepada masyarakat. “Apalagi, sejak dulu kita mengenal ramalan dengan garis tangan. Padahal, analisis sidik jari berbeda,” terang dia.

Pola sidik jari diduga terkait langsung dengan sistem kerja otak. “Itu terkait dengan pengolahan informasi pada tiga bagian otak. Yakni, batang otak, sistem limbic, dan cerebral cortex,” jelas Benny.

Tiga bagian itu, lanjut dia, berkaitan dengan fungsi-fungsi kebutuhan manusia soal motivasi atau basic needs motivation. Benny mencontohkan, sidik ibu jari terhubung dengan fungsi otak bagian prefrontal lobes (paling depan), menunjukkan gaya motivasi berdasar persepsi seseorang terhadap diri dan orang lain. Ibu jari kanan dipengaruhi otak kiri. Itu terkait dengan sistem kemampuan interpersonal ke dalam manajemen diri dan kekuatan konsistensi perencanaan diri. Sedangkan jempol kiri memengaruhi otak kanan, merespons kemampuan interpersonal ke lingkungan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Lalu, jari manis terhubung dengan fungsi otak bagian temporal lobes. Itu menunjukkan motivasi berkomunikasi yang melibatkan kemampuan pendengaran. Jari manis kanan yang dipengaruhi otak kiri menunjukkan responsivitas menangkap ketepatan isi komunikasi bahasa dan pola irama secara objektif. Sementara itu, jari manis kiri menunjukkan ketajaman rasa bahasa dan kepekaan terhadap irama atau bunyi-bunyian.

Benny mengatakan, meskipun unik dan tak sama pada setiap orang, sidik jari memiliki kelebihan, yakni bisa diklasifikasikan. Itulah yang membuat sidik jari memungkinkan untuk diteliti dan dikaitkan dengan struktur otak. Ada banyak macam pola sidik jari. Pola-pola itu diklasifikasikan dalam tiga macam. Salah satunya adalah tipe arches, berciri tanpa titik delta atau triraridii. Titik delta adalah julur-julur yang membentuk semacam segi tiga. Lalu, ada tipe loops (memiliki sebuah titik delta) dan whorls (punya titik delta).

Metode analisis sidik jari sebenarnya memerlukan rangkaian proses yang cukup rumit. Mulai pengambilan data, pengolahan data image, hingga interpretasi laporan. Hanya, proses itu menjadi lebih singkat dengan dukungan aplikasi software yang dikembangkan oleh Benny bersama timnya.

Benny merintis metode analisis sidik jari di Indonesia mulai tiga tahun lalu. Studi dan aplikasi mengenai motode itu sebenarnya pernah masuk ke tanah air. Misalnya, imbuh Benny, metode yang dikembangkan oleh lembaga dari Singapura. Namun, aktivitas mereka berkisar di kalangan terbatas. Selain itu, harga analisis dengan metode tersebut mahal. “Waktu itu harga setiap analisis sampai Rp 3 juta. Karena itu, hanya orang-orang berduit yang berminat,” ulas Benny.

Dari situlah Benny mulai mengembangkan riset kecil-kecilan. Awalnya, dia meneliti anak-anaknya. Setelah riset tersebut dirasa prospektif, dia mengajak para ahli psikologi bergabung ke lembaganya. “Saya mendapatkan banyak dukungan,” tutur ayah enam anak “tiga di antaranya kembar” tersebut.

Meski secara formal merupakan sarjana hukum lulusan Universitas Indonesia (1994?1999), Benny adalah pakar di bidang pengembangan IT Biometric. Selain menjadi direktur PT Psikobiometric, Benny menjabat kepala Research and Development Dermatoglyphic Talent Spectrum Melinda Hospital, Bandung. “Di rumah sakit itu saya mendapatkan banyak bantuan dari teman-teman,” ujar dia.

Benny bersama timnya membuat sendiri peranti lunak untuk menganalisis sidik jari klien. “Riset kami terus berlangsung,” tegas dia.

Saat ini telah ada 33 franchise analisis sidik jari yang tersebar di sejumlah kota. Di antaranya, Jakarta, Bogor, Surabaya, Semarang, Solo, Pekanbaru, dan Bandung sebagai lokasi kantor pusat. Klien yang pernah mereka tangani mencapai 30 ribu orang.

Seluruh analisis data memang masih dipusatkan di Bandung. Untuk mendapatkan hasil dari satu kali analisis lengkap, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar tiga hari. Sebab, selain dibantu software komputer, dia harus menggunakan analisis dan interpretasi secara manual. Saat ini sudah ada analisis instan yang murni berasal dari komputer.

“Namun, validitasnya agak kurang. Meskipun, ke depan kami juga usahakan yang instan bisa lebih baik,” kata Benny. (*/c11/ari)

Gambaran Mengenai Gaya Belajar

Setiap orang mempunyai cara belajar masing-masing.  Cara dan gaya belajar tersebut dipengaruhi oleh respon otak dalam  menerima informasi melalui alat-alat indera yang terdiri dari  indera penglihatan (visual), pendengaran (auditori), juga perabaan/sentuhan (kinestetik).

Bagaimana dengan Anda, apakah sudah mengetahui gaya belajar yang sebenarnya paling efektif ? Pun dalam memahami gaya belajar anak. Apakah Anda sudah memberikan yang sesuai berdasarkan pembawaan alamiahnya…?

Dengan mengenali dan memahami cara belajar anda, anda dapat menggunakan teknik belajar yang lebih baik yang cocok dengan anda dan anak anda. Hal ini dapat memperbaiki kecepatan dan kualitas belajar anda.

Menggunakan beberapa cara belajar dan kecerdasan untuk belajar adalah cara pendekatan yang baru. Pendekatan ini baru dikenal di lingkungan pengajar.

Sekolah tradisional selama ini menggunakan (dan terus menggunakan) metode pembelajaran linguistik dan logika. Metode ini juga menggunakan jangkauan yang terbatas dalam teknik proses belajar dan mengajar.

Banyak sekolah masih mengandalkan pada ruang kelas, pembelajaran buku dasar, banyak pengulangan, dan ujian untuk memperkuat dan mengulas. Satu Hasil yang selalu kita nilai bagi mereka yang menggunakan cara pembelajaran dan teknik ini sebagai ‘pintar’. Bagi mereka yang kurang menyukai cara belajar selalu berada di kelas rendah, dengan berbagai penilaian yang tidak terlalu komplementer dan kadang-kadang dengan kualitas belajar yang rendah. Hal ini dapat membuat pemikiran positif dan negatif yang dapat menguatkan kepercayaan bahwa seseorang adalah ‘pintar’ dan ‘bodoh’.

Cara belajar anda memiliki banyak pengaruh dari apa yang anda bayangkan. Kesukaan cara belajar anda memandu jalan anda untuk belajar. Cara belajar anda juga mengubah cara anda mewakili pengalaman, cara anda menyerap informasi, dan bahkan kata-kata yang anda gunakan.

Penelitian menunjukan bahwa setiap cara pembelajaran menggunakan bagian otak yang berbeda. Dengan melibatkan lebih banyak bagian otak selama proses belajar, kita dapat lebih banyak mengingat dari apa yang kita pelajari. Para peneliti yang menggunakan pencitraan otak telah mampu mengungkap wilayah utama pada otak yang berperan pada setiap gaya belajar.

Jadi, tidak ada orang yang bodoh ataupun lamban dalam menerima pembelajaran, yang ada adalah karakteristik apa yang dimiliki seseorang yang paling cocok untuk metode pembelajaran tertentu.

Metode pembelajaran yang baik adalah yang sesuai dengan daya respon tinggi pada fungsi-fungsi otak yang lebih dominan.


 

Pengertian

Fingerprint Analysis (Analisa Sidikjari) adalah suatu metode yang bertujuan untuk mengungkapkan potensi genetik (bawaan sejak lahir) seseorang dalam kaitannya dengan bakat, kecerdasan, kecendrungan karakter, dan motivasi.

Fingerprint Analysis merupakan suatu metode ilmiah yang didasari berbagai disiplin ilmu melibatkan:
• Ilmu / Science & Research of Dermatoglyphics;
• Ilmu kedokteran & anatomi tubuh khususnya mengenai fungsi-fungsi bagian otak;
• Ilmu Psikologi modern
• Teknologi komputer biometrics;

Fingerprint Analysis bukanlah ramalan dan sama sekali tidak mengandung ilmu mistik/supranatural. Tidak bertentangan dengan agama dan sistem keyakinan.

Fingerprint Analysis adalah hasil aplikasi dari teori-teori ilmiah terkini dengan menggunakan sistem teknologi dan perhitungan komputer. Beberapa negara seperti Taiwan, Singapura, Thailand, Amerika sedang mencoba menerapkan aplikasi ini dalam bidang pendidikan dan personalia. Negara Rusia bahkan menerapkan aplikasi ilmu Dermatoglyphics ini dalam mencari/menyeleksi atlet berbakat.

Tujuan & Manfaat Fingerprint Analysis
Fingerprint Analysis bertujuan untuk mengetahui potensi genetik (bawaan sejak lahir) dengan cara mengetahui peta stimulasi cara kerja/fungsi-fungsi bagian otak manusia, sehingga dapat diketahui:
• Sensitifitas daya tangkap seseorang atas informasi yang dia terima melalui panca indera, dan bagaimana otak memprosesnya;
• Kecenderungan daya respon seseorang atas stimulasi-stimulasi yang dia terima dan bagaimana otak memprosesnya dalam bentuk tindakan;
• Gaya berfikir yang paling dominan berdasarkan belahan otak kanan-kiri (brain hemisphere), dan mengungkap kecenderungannya dalam proses pengambilan keputusan;
• Komposisi distribusi nerve pada fungsi-fungsi bagian otak, sehingga diketahui daerah stimulasi mana yang paling sensitif pada bagian otak : frontal lobe, parietal lobe, occipital lobe, dan temporal lobe, dan dikaitkan dengan kecendrungan skill seseorang yang paling cepat untuk diserap dan dilatih;

Manfaat yang dapat diambil dari Fingerprint Analysis adalah:
• Mengenal potensi dasar diri sendiri, termasuk karakter kepribadian, dan gaya pengambilan keputusan dan tindakan;
• Mengenal potensi peta kecerdasan yang paling stimulatif dan yang kurang stimulatif;
• Mengetahui potensi kelemahan, kecenderungan dominasi distribusi kekurang seimbangan peta stimulasi fungsi-fungsi bagian otak, dan kecenderungan karakter dan kaitannya dalam membina komunikasi dan relasi dengan orang lain;
• Sebagai bahan referensi dalam menganalisa diri, dan membuat perencanaan kehidupan masa depan yang lebih efektif;
• Menentukan masa depan secara lebih pasti, pendidikan yang paling efektif, dan karier yang paling potensial untuk ditekuni.

Akurasi Hasil Analisa Fingerprint Analysis :
Pengukuran akurasi hasi analisa Fingerprint Analysis ini didasari atas berbagai aspek, yakni:
1. Data Sampling
Fingerprint menggunakan input data samplingnya berupa SIDIKJARI dari kesepuluh jari tangan dan telapak tangan. SidikJari bersifat permanen dan tidak pernah berubah sepanjang hayat dan SidikJari tidak pernah sama di setiap orang, menunjukkan karakteristik yang paling khas dan spesifik dalam mengukur seseorang. Oleh karena itu analisa ini menggunakan data yang paling akurat 100%.

2. Proses Pengambilan Data (taking sample)
Proses pengambilan data berupa sidik jari hanya memerlukan waktu yang relatif singkat dalam situasi dan kondisi apapun dari peserta test (testee). Data sidikjari ini tidak dipengaruhi usia, kondisi kesehatan dan mood seseorang. Menggunakan data yang bersifat kuantitatif. Oleh karena itu analisa ini menggunakan proses taking sample yang sangat obyektif 100%.

3. Proses Analisa Data
Proses analisa data melibatkan tenaga analist dan bantuan software aplikasi dan teknologi komputer. Pengerjaan manual dilakukan untuk menentukan kualitas hasil ekstrak gambar sidik jari yang lebih terjamin akurasinya dan memilah-milah spesifikasi patternnya. Sementara pengolahan gambar , perhitungan dan databasenya dikerjakan dengan sistem komputer. Secara sistem proses analisa ini, diujicobakan dengan akurasi diatas 90%.

4. Proses Pengujian hasil
Proses pengujian hasil bersifat relatif karena yang dianalisa adalah potensi genetik (bawaan sejak lahir) dari peta stimulasi pada fungsi bagian otak. Ketepatan hasil bila dikaitkan dengan kondisi faktual bisa sangat subyektif karena melibatkan sudut pandang orang yang menilainya serta kondisi/lingkungan dimana selama ini seseorang dibesarkan. Bisa jadi hasil analisa sangat berbeda dengan kondisi faktual. Bagaimanapun, berdasarkan ujicoba riset dan statistika, ketepatan antara hasil analisa dengan kondisi faktual mencapai angka di atas 80%.

5. Data Sampling Error
Kesalahan secara sistem komputer sangat minimal, namun kemungkinan error tetap ada berdasarkan kondisi data sample yang rusak.

Kelebihan & Kelemahan Fingerprint Analysis :
Dibandingkan dengan sistem penilaian (assessement) kepribadian dan pengukuran kecerdasan/bakat lainnya, fingerprint memiliki kelebihan sebagai berikut:
• Akurasi lebih tinggi untuk mengukur potensi yang bersifat genetik; Potensi genetik lebih akurat diukur dengan metode penilaian secara genetik. Kondisi non-genetik lebih akurat diukur berdasarkan metode pengamatan/observasi berdasarkan tingkah laku.
• Bersifat permanen, analisa ini hanya perlu dilakukan satu kali seumur hidup.
• Prosesnya yang simple, praktis, efisien dan aplikatif. Bisa untuk segala usia, segala kondisi, dan waktu yang relatif singkat.

Sementara itu, kelemahan/kekurangan fingerprint analysis ini yakni:
• Tidak bisa mengukur kondisi faktual kemampuan seseorang yang berubah-rubah setiap waktu karena selain genetik, kecerdasan seseorang sangat dipengaruhi oleh stimulasi lingkungannya.
• Tidak bisa sebagai alat pembanding untuk mengukur kelebihan seseorang dibandingkan dengan orang lain. Bila tujuannya adalah menyeleksi dengan batasan dalam rangka mencari yang terbaik, maka analisa ini kurang dapat diaplikasikan.
• Karena keterbatasan teknologi, fingerprint test terkadang tidak bisa mendeteksi untuk orang-orang yang memiliki kulit yang terlalu tipis dan keringat berlebihan. Hal ini disebabkan scanner tidak mampu menangkap sidikjari pada kulit jenis ini.

Proses Analisa Fingerprint Analysis :
Untuk mengikuti analisa fingerprint ini, ada beberapa proses yang perlu dilalui:

1. Pengambilan data sampling (taking sample), peserta akan discan kesepuluh sidik jari dan telapak tangannya dengan scanner fingerprint. Ditentukan koordinat titik-titik ATD dan diukur derajatnya dengan menggunakan alat ukut. Proses ini memerlukan waktu sekitar 5-10 menit/orang.

2. Proses Analisa dan Penghitungan, data dari sampling akan dikirim ke laboratorium di kantor pusat untuk dianalisa, kemudian hasil akan dikirim dalam waktu 10-14 hari kerja.

3. Pembacaan hasil. Para klien peserta analisa fingerprint ini diberikan fasilitas untuk konsultasi hasil, juga perlu diakurasikan dengan kondisi faktual dengan mengeksplorasi hasil tersebut bersama antara konsultan pendidikan dan peserta test/orang tuanya.

Informasi dan Pendaftaran Fingerprint Test :
Telp. (022) 76 126 127, 0815 6090 644

Riset homeschooling di Indonesia
RERERENSI & RESOURCES
Sumber : http://www.rumahinspirasi.com

Written by Aar

Monday, 09 February 2009
Hari ini aku menerima hasil riset (tesis) seorang mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) mengenai homeschooling. Kebetulan aku menjadi salah seorang responden penelitiannya. Penelitan yang dilakukan oleh Haniar itu berjudul “Suatu Studi Seputar Penyelenggaraan Homeschooling di Jabotabek.”Beberapa poin hasil risetnya adalah:

ChildrenProfil keluarga homeschooling

  • 95% responden adalah pasangan suami istri yang berstatus Menikah. Ini menunjukkan homeschooling lebih banyak dilakukan oleh keluarga yang kuat (utuh).
  • Rata-rata usia suami: 38,9 tahun dan rata-rata usia istri: 35,9 tahun.
  • 95% pasangan yang baik suami atau istri adalah lulusan perguruan tinggi (S1,S2).
  • 79% kuesioner diisi oleh para ibu/istri, para ibu yang lebih banyak memegang tanggung jawab dalam membimbing anak-anak dalam melakukan homeschooling.
  • 63% yang melakukan homeschooling, adalah istri yang tidak bekerja. 47% di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi. Dan 44% istri mengajar sendiri anaknya. Disimpulkan bahwa sebagian besar istri-istri yang tidak bekerja adalah lulusan perguruan tinggi dan mengajar anaknya sendiri.
  • 70% anak pernah bersekolah di sekolah formal sebelum homeschooling (dengan tingkatan kelas yang berbeda-beda dari TK sampai SMA),dan 35% anak yang pernah bersekolah formal diajar sendiri oleh orangtuanya.

Dalam penelitian itu juga diperoleh 11 faktor yang menjadi alasan orangtua memilih homeschooling, juga keuntungan dan kelemahan homeschooling.

Abstraksi hasil penelitian ini dapat didownload di SINI.

Sumber: www.AnneAhira.com

Definisi Home Schooling

Anda tentu tidak asing lagi mendengar istilah Home Schooling. Beberapa praktisi pendidikan menggunakan istilah Home Education atau Home Based Learning. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sekolah Rumah atau Pendidikan Rumah atau ada juga yang menyebutnya Sekolah Mandiri.

Pemerintah menjabarkan definisi Home Schooling dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1) dan (2) sebagai berikut:

1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri

2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Meskipun dikatakan pendidikan informal, keberadaan Home Schooling diakui oleh pemerintah sebagaimana keberadaan sekolah formal lainnya yang mengikuti standar kurikulum serta waktu belajar yang telah ditetapkan pemerintah. Hanya saja, kegiatan Home Schooling lebih fleksibel, bergantung pada kondisi peserta didik atau kebijaksanaan guru Home Schooling yang biasanya adalah orang tua peserta didik itu sendiri.

Peserta Home Schooling pun bisa memperoleh ijazah sebagaimana siswa sekolah formal.  Mereka bisa mengikuti ujian nasional melalui program paket A yang setara dengan SD, program paket B setara SMP dan program paket C yang setara SMA asalkan melapor pada Dinas Pendidikan setempat. Beberapa orang tua merasa perlu mengikutkan putra-putrinya pada ujian penyetaraan ini untuk menguji sejauh mana keberhasilan pendidikan Home Schooling terhadap mereka.

Selain itu, peserta Home Schooling berhak memperoleh dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yaitu : Paket A sebesar 238 ribu + 74ribu rupiah (modul/bahan ajar); Paket B 260 ribu + 80 ribu; dan Paket C  285 ribu + 84 ribu rupiah.

Alasan Memilih Home Schooling

Tanpa hendak mengeneralisasi pendidikan formal, beberapa orang tua ada yang menyatakan ketidakpuasannya ketika menyekolahkan buah hatinya di sekolah formal. Mereka menganggap bahwa mata pelajaran yang diberikan terlalu bertele-tele dan membebani anak-anak.

Misalkan, anak-anak di tingkat pendidikan sekolah dasar harus menghafal lagu dan tarian daerah sekaligus mempelajari sistem pemerintahan Indonesia yang selalu mengalami perombakan dari waktu ke waktu. Setelah bertahun-tahun mempelajari, ternyata syarat kelulusan hanya tertumpu pada mata pelajaran Sains, Matematika dan Bahasa Indonesia.

Jika demikian halnya, anak-anak tidak perlu dipusingkan dengan hafalan-hafalan yang tidak perlu. Toh, jika anak-anak ingin tahu jenis-jenis senjata tradisional Indonesia, misalnya, dengan mudahnya ia dapat membuka buku referensi atau internet tanpa harus bersusah payah menghafalkannya.

Selain itu, melalui Home Schooling anak-anak bisa mengeksplorasi apa yang menjadi minat dan bakatnya. Ia tidak akan dipaksa untuk bernyanyi atau berpuisi sebagaimana yang berlaku di sekolah formal. Jika ia suka melakukan percobaan-percobaan sains. maka di Home Schooling ia bebas bereksperimen.

Pendidikan Home Schooling pun bukan berarti segala sesuatunya harus dikerjakan di dalam rumah. Peserta didik dan guru bebas mengunjungi sumber belajar seperti sawah, perpustakaan, museum, peternakan dan lain sebagainya, sebagai sarana belajar.

Alasan lain mengapa orang tua memilih Home Schooling adalah kesibukan anak yang telah berkarir di usia dini. Para artis belia memilih pendidikan Home Schooling dengan mendatangkan guru privat untuk mengajar di rumahnya. Barangkali, jadwal syuting atau pemotretan sering bentrok dengan waktu belajar di sekolah formal. Kehadiran Home Schooling yang lebih fleksibel dalam penentuan waktu belajar menjadi pilihan mutlak bagi mereka.

Jika ada pendapat yang menyebutkan bahwa Home Schooling adalah metode pendidikan terbaik bagi anak-anak Indonesia, tentu saja hal ini kuranglah tepat. Home Schooling hanyalah salah satu dari sekian banyak alternatif pendidikan dan hanya tepat diberlakukan pada kondisi dan tipe peserta didik tertentu.

Karena itu, sebelum Anda memutuskan untuk menjalani pendidikan Home Schooling, ada baiknya Anda mempelajari seluk beluk Home Schooling melalui berbagai media cetak ataupun elektronik, atau bertanya kepada orang tua yang sudah menjalani program tersebut.

Kontak Kami

Informasi dan Pendaftaran Fingerprint Test :
Telp. (022) 9173 2717, 0815 6090 644